Referendum Adalah The Last Solution Untuk Aceh

*oleh Teuku Muzwari Irza

Isu referendum kembali digaungkan oleh ketua Partai Aceh Muzakir Manaf akrab di sapa Mualem pasca Haul Hasan Tiro yang ke 9. Sejarah pertama kali referendum di Aceh adalah tahun 1999, Aceh kala itu mengalami krisis multidimensi, rakyat aceh jutaan berkumpul di mesjid raya menuntut Aceh merdeka kala itu.

Kemerdekaan itu hanya menjadi imajinasi setelah gagal di atas meja perundingan pada tahun 2005 di Helsinki, Aceh di berikan kekhususan yang luar biasa oleh pemerintah pusat.

Berangkat dari statement Mualem yang menyerukan kembali referendum kemarin, dengan alasan “Negara Indonesia tak lagi jelas soal keadilan dan demokrasi, di ambang kehancuran dari sisi apa saja” menurut saya Mualem tidak menjelaskan konkrit dan detail yang menjadi indikator kenapa Aceh harus Referendum, terus tolak ukurnya juga kurang jelas bagaimana menjelaskan diambang kehancuran, jika dari segi ekonomi, pertumbuhan ekonomi indonesia masih stagnan, tidak merosot.

Berbeda pada tahun 1999 yang mengalami krisis multidimensi dan transisi ke reformasi, demokrasi tak lagi jelas? Ya jika tak lagi jelas penggunaan sosial media terus meningkat, dan masyarakat pun bebas berceloteh apapun selama itu tak melanggar hukum, ingat batas dari kebebasan yang demokrasi adalah hukum dan berbenturan dengan kebebasan orang lain.

Kemudian berangkat dari statment Rafli Kande yang sekarang menjabat sebagi anggota DPD RI dan terpilih anggota DPR RI pada tahun 2019-2024, Menurut Rafli “referendum menjadi alternatif untuk mempertegas kewibaan antara pusat dengan pemerintah aceh, referndum jilid 2 lebih afdhal bagi aceh sebagai jalan tengah untuk kebaikan aceh dan indonesia” disini alasan dari rafli masi mengambang tidak jelas arahnya, jika untuk kebaikan tidak mesti referendum solusinya, banyak jalan lain, referendum adalah jalan jika situasi aceh sudah genting sudah masuk kedalam hal politik identitas dan diskriminatif seperti 1999, tampaknya rafli belum tahu apa itu referendum, jika semua provinsi memakai logika seperti Rafli sudah semua provinsi meminta referendum.

Dalam prinsip negara demokrasi tidak ada yang salah dengan pernyataan, cuma referendum adalah the last solution, sejauh ini saya sebagai masyarakat masih aman-aman saja, dan tidak menghendakkan itu terjadi, perdamaian yang telah di sepakati oleh elit Aceh yang kembali menyuarakan referendum masi dalam keadaan aman saja. Justru saya bertanya kenapa elit yang dulu bertanda tangan di nota kesepahaman menyuarakan kembali referendum?

Mantan Kombatan atau tuha 4 GAM Zakaria Saman menolak referendum, beliau tidak ingin masyarakat gaduh. Tahun 2014 isu referendum juga di ucapkan oleh ketua partai Gerindra TA Khalid, saat itu TA Khalid berorasi di depan gedung MK menuntut Referendum alasannya sama dengan Mualem, “demokrasi dan keadilan di indonesia tidak baik dan semakin amburadur”. Saya kutip dari Tribunnews (6 agustus 2014).

Pernyataan Mualem dan kolega di lontarkan pasca pemilu dan mendekati sidang Mahkamah Konstitusi, aroma politis semakin tercium, Mualem merupakan Ketua Tim sukses Prabowo-Sandi, kemudian Rafli merupakan Kader PKS merupakan koalisi solid mendukung Prabowo-Sandi. Tampaknya referendum menjadi penggiringan isu saja karna kekalahan pasangan yang pernah mereka usung 2 kali pada tahun 2014 dan 2019. Jika pun serius ingin referendum kita harus jeli melihatnya, ada elit yang bermain.

Pada tahun 1999 ada satu lembaga yang mengurus dan memperjuangkan referendum, namanya SIRA ( Sentral Informasi Referendum Aceh) yang sekarang menjadi satu partai lokal Aceh, Lembaga atau partai ini belom bersuara terkait referendum Aceh. Ini yang menjadi pertanyaan. Politik identitas chauvinisme dan provinsialisme sukses di bangun di aceh. Justru ini yang harus dihindari, karna persatuan akan kekal jika politik identitas tak digunakan kemudian sebaliknya. Pepatah inggris pernah mengatakan “there is a black sheep in every flog” Satu kesalahan yang pars prototo dalam logika kepada yang menyuarakan referendum.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Ilmu Politik UIN Ar Raniry

UNTUK HP

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *