Presma Unsyiah Minta Emas Aceh Dikembalikan. Dema Pospera Unsyiah : Baiknya Presma Unsyiah Belajar Sejarah dan Berfikir Intelek.

SekilasInfo.Id, Banda Aceh – Dewan Mahasiswa Posko Perjuangan Rakyat (Dema Pospera) Komisariat Unsyiah meminta Rival Perwira Presiden Mahasiswa (Presma) unsyiah untuk menggali lagi sejarah dan kedermawanan tokoh-tokoh orang Aceh terdahulu dalam membantu Republik ini.

Hal tersebut dikatakan oleh Angga Ramadhan selaku ketua Dema Pospera Unsyiah melalui siaran persnya pada Kamis (29/08) menanggapi pernyataan Presma Unsyiah terkait permintaannya untuk mengembalikan Emas di Monas ke Aceh dikarenakan Pemindahan Ibukota ke kalimantan timur yang di release pada media Serambi Indonesia pada kamis (29/08).

Menurut Angga, emas tersebut adalah pemberian salah satu tokoh Aceh terdahulu yakni Teuku Markam yang merupakan salah satu pengusaha dari Aceh yang dikenal dekat dengan Presiden RI Pertama Soekarno. Beliau tentu secara ikhlas memberikan emas itu untuk membantu membangun Republik Indonesia ini melalui Presiden Soekarno.

Terlepas dari dinamika sosial, politik antara Aceh dengan Pemerintah Pusat saat ini. Yang jelas jangan pernah mengungkit-ungkit jasa para Tokoh Aceh terdahulu dalam membangun Republik ini, karena hal tersebut memperkecil jasa besar para Tokoh kita, ungkap Angga.

“Jadi, Rival jangan asal ungkit sedekah dari orang Aceh untuk Bangsa ini, lagian ente juga bukan ahli waris Teuku Markam”, tegas Angga yang ditujukan kepada Presma.

Selain itu, Angga meminta BEM Unsyiah agar lebih cerdas dalam mengkritisi sebuah kebijakan Pemerintah. Agar ciri khas Mahasiswa sebagai kaum Intelektual tidak hilang di hadapan publik.

“Ini bukan persoalan setuju atau tidaknya kebijakan Pemerintah Pusat tentang perpindahan Ibukota, tapi ini tentang rasionalitas, logika sebuah statement seorang Mahasiswa. Karena setiap kritikan kita mempertaruhkan nilai-nilai intelektual kita sebagai Mahasiswa dan insan akademis” jelas angga.

Lebih baik kita berdiskusi dan bergerak pada isu-isu lebih urgen dan lebih subtantif yang dihadapi oleh Rakyat Aceh saat ini, misalnya tentang keterlambatan pertumbuhan ekonomi Aceh, pembangunan, korupsi atau tentang keberlanjutan visi Pemerintah Aceh yakni “Aceh Hebat”. Cetus Angga.

Lihat Lainnya

UNTUK HP

Terlepas dari dinamika sosial, politik antara Aceh dengan Pemerintah Pusat saat ini. Yang jelas jangan pernah mengungkit-ungkit jasa para Tokoh Aceh terdahulu dalam membangun Republik ini, karena hal tersebut memperkecil jasa besar para Tokoh kita, ungkap Angga.

“Jadi, Rival jangan asal ungkit sedekah dari orang Aceh untuk Bangsa ini, lagian ente juga bukan ahli waris Teuku Markam”, tegas Angga yang ditujukan kepada Presma.

Selain itu, Angga meminta BEM Unsyiah agar lebih cerdas dalam mengkritisi sebuah kebijakan Pemerintah. Agar ciri khas Mahasiswa sebagai kaum Intelektual tidak hilang di hadapan publik.

“Ini bukan persoalan setuju atau tidaknya kebijakan Pemerintah Pusat tentang perpindahan Ibukota, tapi ini tentang rasionalitas, logika sebuah statement seorang Mahasiswa. Karena setiap kritikan kita mempertaruhkan nilai-nilai intelektual kita sebagai Mahasiswa dan insan akademis” jelas angga.

Lebih baik kita berdiskusi dan bergerak pada isu-isu lebih urgen dan lebih subtantif yang dihadapi oleh Rakyat Aceh saat ini, misalnya tentang keterlambatan pertumbuhan ekonomi Aceh, pembangunan, korupsi atau tentang keberlanjutan visi Pemerintah Aceh yakni “Aceh Hebat”. Cetus Angga.

Lihat Lainnya

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *