Politisi Muda Aceh: “Eksistensi Partai Lokal Harus Meningkat pada Pemilu 2024”

Sekilasinfo.id | Banda Aceh – “Provinsi Aceh memiliki kekhususan tersendiri setelah perjanjian damai tahun 2005 di finlandia dengan sebutan MOU (Memorandum Of Understanding) Helsinki, Finlandia langsung dimediatory oleh mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari. Ada banyak butir-butir kekhususan lahir dari perjanjian ini, salah satunya dengan keberadaan partai lokal di Aceh. Selang satu tahun setelah perjanjian MOU Helsinki, lahirlah partai lokal, yang pertama lahir ada partai PRA (Partai Rakyat Aceh) kemudian di susul oleh partai lainnya seperti PA (Partai Aceh), Partai SIRA( Suara Independen Rakyat Aceh), PDA (Partai Daulat Aceh) dll. Partai Lokal Aceh pertama kali terjun dalam kontestasi politik pada tahun 2009, Partai Aceh tahun 2009 untuk pertama kali dalam mengikuti pemilu memperoleh 33 kursi, keberadaan Partai lokal di sambut gembira oleh mayoritas masyarakat aceh”, jelas Iqbal Rambong.

Menurut Iqbal Rambong selaku Politisi Muda Aceh, Partai Aceh bisa menjadi cerminan kemajuan atau kemunduran Partai Lokal lainnya, ibaratnya Partai Aceh bisa menjadi kiblat atau patron untuk parlok khususnya Aceh. Pemilu 2014 parlok mengalami penurunan suara, eksistensi tak mampu di jaga, suara yang di peroleh pada tahun 2009 tak mampu di tingkatkan, malah menjadi penurunan walaupaun tak se signifikan.

“Pada Pemilu tahun 2014 Partai Aceh memperoleh kursi sebanyak 29 kursi untuk DPRA, sebelumnya memperoleh 33 kursi. alasan suara partai lokal menurun khususnya Partai Aceh dikarenakan ada banyak fakrot salah satunya jualan atau metode kampanye yang tidak berkembang, masi sama dengan metode pada pemilu pada 2009 yang mengeksploitasi akronim demi UUPA dan butir-butir MOU Helsinki.” tegasnya.

Politisi Muda sekaligus mahasiswa akhir ilmu politik UIN Ar-raniry ini juga berpandangan bahwa pada pemilu 2024 partai aceh harus mendongkrak elektabilitasnya, berharap partai lokal bisa bersinar kembali seperti pemilu 2009, pemilu 2009 klimaksnya kejayaan partai lokal kala itu, semoga moment tersebut bisa kembali lagi.

“saya juga mengajak kepada seluruh masyarakat aceh untuk kembali ke partai lokal, dan mengajak juga kepada seluruh elit partai lokal untuk berbenah dalam kaderisasi sekaligus harus ada sirkulasi elit antar tubuh partai lokal tersendiri, jika dua unsur permintaan saya ini terpenuhi sangat yakin pada pemilu mendatang parlok akan semakin berjaya dan mampu mengukir bahkan melampaui sejarah yang pernah terukir”. ujar Iqbal Rambong.

Pemilu 2019 merupakan pembelajaran sangat berharga untuk Partai Aceh, dengan memperoleh kursi 18 kursi, sedangkan partai lokal lain seperti PNA (Partai Nanggroe Aceh) mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan, artinya eksistensi partai aceh juga perlu di tanyakan, dari 33 kursi turun drastis ke angka 18. kedepan saya mangajak harus sama sama intropeksi untuk kemajuan aceh mendatang, karena menurut saya jantung kemajuan perpolitikan atau pembangunan aceh mendatang berada pada partai lokal, dengan memperioritaskan UUPA dan Butir-butir MOU Helsinki yang telah di sepakati pada tahun 2005. kuncinya jika parlok mendominasi di DPRA dan elit-elitnya bagus, arti bagus paham dengan permasalahan aceh, maka pemilu 2024 titik awal kemajuan aceh. (tutupnya, politisi muda aceh Iqbal Rambong)

Muhammad Ikbal (Iqbal Rambong)
Mahasiswa akhir Ilmu Politik UIN Ar-raniry

Lihat Lainnya

UNTUK HP

Lihat Lainnya

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *