Isu Agama Menjadi Santapan Publik

Fadhlullah (mahasiswa ilmu politik uin ar raniry)

Isu agama menjadi santapan publik.

Pasca penistaan agama yang dilakukan basuki purnama alias ‘ahok’, isu agama sangat poluler di kumandangkan disetiap daerah. Karena hasil yang cukup signifikan dengan menyuarakan opini agama sebagai bahan kampannye politik, dan keberhasilan dari pengangkatan isu ini sangat terlihat jelas, baik
itu di tingkat pusat maupun di daerah, Budaya politik yang seperti ini sebenarnya sangat tidak sehat untuk di contohkan kepada masyarakat, yang seharusnya visi dan misilah menjadi hal yang pertama untuk di kampanyekan, karena indonesia sudaah menjadi negara berdaulat seharusnya sangat tidak tepat mempromosikan politik indentitas sebagai bahan kampanye.
Karena toleransi umat beragama yang sudah mulai membaik menjadi sesuatu hal di takutkan oleh minoritas. aapalagi isu agama yang sangat sensitif itu di beberkan di setiap daerah menjadi suatu gejolak sosial yamg tidak sehat dalam tubuh demokrasi, Negara berdaulat seperti indonesia seharusnya kedaulatana itu harus dijaga oleh seluruh stageholder di negara indonesia. Memang sangat susah membuat netralitas politik terhadap agama, karena itu menjadi bahan yang langka, pada saat yang sama pun agama menjadi entitas yang semakin penting dalam politik.
Pola pikir seperti ini sangat tidak layak sebenarnya
di lakukan oleh elit politik kita, yang seharus nya elit politik juga mempunya peran untuk memberi edukasi politik , semestinya memaparkan visi-misi yang akan dia lakukan, dan beradu argumen tentang visi-misi mereka, bukan berdebat tentang gama suku dan ras antar elit, karena hal ini dapat membuat bangsa yang berdaulat mudah terpecah dan mudah memanas, karena tidak semua orang mengerti apa itu politik. Dan ibnu rusyd pernah berkata “jika ingin menguasa orang bodoh, maka bungkuslah sesuatu yang bhatil dengan agama” .
Sadar ataukah tidak baanyak orang yang apabila ada hal sesuatu yang dikaitkan dengan agama menjadi hal yang sangat sensitif, mngkin karena fanatisme yaang membuat mereka apa yang dikerjakan aatas dasar agama menjadi hal yang mulia, dan ini justru menjadi kesempatan para elit untuk membungkus sesuatu hal dengan agama demi memenangkan pertarungan politik mereka.
Sehingga terjadi hal hal yang tidak diinginkan, seperti halnya ada perpecahan umat, bahkan dalam
tubuh umat islam itu tersendiri, dan bahkan saling menyesatkan sampai ke tahap yang lebih parah mengkafirkan, ini kan menjadi contoh yang tidak layak untuk di jadikan panutan. Harus ada pembiasaan dan bimbingan oleh tokoh-tokoh dalam masyarakat atau elite politik untuk menyadari atau mengatahui visi misi yang di tawarkan oleh yang mengukuti kontestasi politik, karena politik merupakan faktor majunya atau mundurnya suatu bangsa dan negara.

UNTUK HP

Isu agama menjadi santapan publik.

Pasca penistaan agama yang dilakukan basuki purnama alias ‘ahok’, isu agama sangat poluler di kumandangkan disetiap daerah. Karena hasil yang cukup signifikan dengan menyuarakan opini agama sebagai bahan kampannye politik, dan keberhasilan dari pengangkatan isu ini sangat terlihat jelas, baik
itu di tingkat pusat maupun di daerah, Budaya politik yang seperti ini sebenarnya sangat tidak sehat untuk di contohkan kepada masyarakat, yang seharusnya visi dan misilah menjadi hal yang pertama untuk di kampanyekan, karena indonesia sudaah menjadi negara berdaulat seharusnya sangat tidak tepat mempromosikan politik indentitas sebagai bahan kampanye.
Karena toleransi umat beragama yang sudah mulai membaik menjadi sesuatu hal di takutkan oleh minoritas. aapalagi isu agama yang sangat sensitif itu di beberkan di setiap daerah menjadi suatu gejolak sosial yamg tidak sehat dalam tubuh demokrasi, Negara berdaulat seperti indonesia seharusnya kedaulatana itu harus dijaga oleh seluruh stageholder di negara indonesia. Memang sangat susah membuat netralitas politik terhadap agama, karena itu menjadi bahan yang langka, pada saat yang sama pun agama menjadi entitas yang semakin penting dalam politik.
Pola pikir seperti ini sangat tidak layak sebenarnya
di lakukan oleh elit politik kita, yang seharus nya elit politik juga mempunya peran untuk memberi edukasi politik , semestinya memaparkan visi-misi yang akan dia lakukan, dan beradu argumen tentang visi-misi mereka, bukan berdebat tentang gama suku dan ras antar elit, karena hal ini dapat membuat bangsa yang berdaulat mudah terpecah dan mudah memanas, karena tidak semua orang mengerti apa itu politik. Dan ibnu rusyd pernah berkata “jika ingin menguasa orang bodoh, maka bungkuslah sesuatu yang bhatil dengan agama” .
Sadar ataukah tidak baanyak orang yang apabila ada hal sesuatu yang dikaitkan dengan agama menjadi hal yang sangat sensitif, mngkin karena fanatisme yaang membuat mereka apa yang dikerjakan aatas dasar agama menjadi hal yang mulia, dan ini justru menjadi kesempatan para elit untuk membungkus sesuatu hal dengan agama demi memenangkan pertarungan politik mereka.
Sehingga terjadi hal hal yang tidak diinginkan, seperti halnya ada perpecahan umat, bahkan dalam
tubuh umat islam itu tersendiri, dan bahkan saling menyesatkan sampai ke tahap yang lebih parah mengkafirkan, ini kan menjadi contoh yang tidak layak untuk di jadikan panutan. Harus ada pembiasaan dan bimbingan oleh tokoh-tokoh dalam masyarakat atau elite politik untuk menyadari atau mengatahui visi misi yang di tawarkan oleh yang mengukuti kontestasi politik, karena politik merupakan faktor majunya atau mundurnya suatu bangsa dan negara.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *